Tulungagung , December 21st 2008
Berlanjut dari artikel sebelumnya, hari ini Minggu, December 21st 2008 pukul 02:40, ponselku berdering . Kulihat dicontact yang menghubungiku adalah Warda (Fanstrain Surabaya), ia sekadar membangunkanku . Alarm ponselku berbunyi setelahnya , kulihat tulisan “Pergi ke Tulungagung” . Beranjak dari tidur, aku langsung menuju kamar mandi . Setelah mandi , aku menyusul ke rumah Warda, lalu Dwi . Kita berangkat pukul 03:56 .
Di perjalanan menuju stasiun Surabaya Kota, sesuatu yang tak lazim terjadi di daerah Tanjungsari . Sekerumunan orang sedang berjejer di pinggir jalan . Perlahan aku coba untuk mngintip sesuatu yang ada di tengah kerumunan tersebut . Seorang pria dengan leher yang penuh darah , tergeletak tak berdaya . Mungkin maut sudah menjemputnya .
Sesampainya di stasiun Surabaya Kota, kami langsung membeli tiket kereta api KA Dhoho . Hal yang tidak sepantasnya terjadi disini . Karcis yang semestinya berharga Rp 16.500,00 untuk tiga orang penumpang @Rp 5.500,00 menjadi Rp 17.000,00 . Memang itu tidak seberapa bagiku , tetapi bila terjadi minimal pada 50 penumpang KA Dhoho , ini jelas-jelas korupsi skala menengah . Jack ! Penjual karcis tersebut bisa dibilang Calo Berseragam . Mungkin ini sedikit saran kepada manajemen stasiun Surabaya Kota agar tidak meremehkan rakyat kecil . Sering juga petugas penjual karcis memiliki ego yang tinggi dalam melayani calon penumpang KA . Sungguh ironis !
Bertolak dari stasiun Surabaya Kota pukul 04:45 , kereta merangkak menuju Tulungagung .
Setelah melewati waktu selama +/- 4,5 jam , kami tiba di stasiun Tulungagung . Sesampainya disana, aku langsung disambut oleh Mas Abi, Norman, dan Edi . Aku juga akan diperkenalkan oleh salah satu anak TRC (Tulungagung Railfans Comunity) lainnya yang bernama Nyoman , karena suatu hal ia terlambat datang .
Setelah berkenalan, kami langsung meninggalkan stasiun Tulungagung . Berjalan menyusuri rel menuju ke arah selatan , aku menemukan lengkung kereta yang cukup menarik sebelum memasuki stasiun Tulungagung dari arah Blitar . Sekian lama berjalan, akhirnya kami tiba di PJL . Kami duduk dan berbincang-bincang dengan petugas PJL mengenai waktu kedatangan kereta api . Sambil membaca MKA , kami menunggu . Akhirnya bunyi genta berdering , pertanda akan ada kereta yang melintasi PJL tersebut . Tiap-tiap anak berlari untuk mencari spot-spot terbaik , termasuk juga aku . Dan tidak untuk mas Abi, karena ponsel kamera yang ia bawa ludes di daerah Kaliasin, Surabaya karena penipuan .
Setelah dinanti, muncul KA Dhoho dengan Lok BB301 09 meluncur dari arah Blitar memasuki stasiun Tulungagung . Dan semua lensa mengarah , menuju pada loko merah buatan KRUPP Belanda ini .
Tak terasa hari sudah semakin siang , kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 12:00 , waktunya kembali ke stasiun .
Kita duduk di peron stasiun Tulungagung, lalu Nyoman menghampiri kita dari tempat ia memarkir sepedanya . Kami langsung berkenalan . Puas mengobrol , suara pengumuman berbunyi bahwa kereta api Dhoho tujuan Blitar akan datang . Tak ayal , kami langsung lari mencari spot-spot terbaik untuk mengambil gambar . Dan hal ini juga tidak berlaku untuk mas Abi . Setalah sampai di spot-spot pilihannya masing-masing , ‘kuda besi’pun muncul . KA Dhoho bernomor loko CC201 10 , merayap memasuki peron stasiun Tulungagung . Penumpang berlarian , berdesak-desakan memasuki pintu di tiap-tiap gerbong . Hufffttt . . . ! Memang, para pemudik akan menyambut Hari Raya Natal dan Tahun Baru . Kami juga langsung kembali berkumpul di tempat semula kami duduk .
Waktu menunjukkan pukul 13.40 , pintu loket untuk KA Dhoho Ikon jurusan Surabaya ibuka . Weew , langsung kita membeli karcis disana .
Pukul 13:45, kita berpisah . Oia , nama organisasi baru kita adalah “SEPUR’ (Seven-Eight Presentative Unity of Railfans) . Kereta meninggalkan Tulungagung , selamat tinggal teman !
Setelah perjalanan sekitar satu jam, kami sampai di stasiun Kertosono . Disini kereta berhenti lama, karena untuk meneruskan ke Surabaya, lokomotif harus diubah arah . Dari semula yang berada di depan , kini harus pindah ke belakang . Aku turun , meninggalkan kedua temanku ini . Kuhampiri lokomotif yang akan melangsir KA Dhoho . Aku naik di atas lokomotif dan berkenalan dengan masinisnya, Pak Catur dan Pak Sandy . Keretapun melanjutkan perjalanan ke Surabaya dan aku masih tetap berada di kabin lokomotif CC201 04 . Kereta ini melaju sangat cepat , kecepatannya hingga melampaui taspat yang diberikan, yaitu 103.2 km/h sedangkan taspat yang ada hanyalah 80km/h . Wooow . . . keren ! ! !
Ahirnya pukul 18.20, kereta memasuki peron stasiun Semut .
Untuk melihat hasil foto selama aku di tulungagung silahkan klik disini . Dan untuk para railfans yang masih ‘indie’, menggunakan kamera ponsel dan ingin daftar dalam organisasi kita, silahkan tinggalkan biodata diri anda di komentar dalam posting ini dengan format nama, domisili, umur , jenis kelamin, e-mail, serta nomor yang bisa dihubungi .
